You are currently viewing gdp jepang kuartal iii rebound, household spending pulih

gdp jepang kuartal iii rebound, household spending pulih

Perekonomian Jepang pulih pada kuartal ketiga yang sebagian besar karena didorong oleh kenaikan pengeluaran rumah tangga yang mencatat kenaikan cukup signifikan, namun bayang bayang COVID-19 tetap mengaburkan prospek ekonomi kedepan.

Pada hari Selasa (08/Desember), kantor Kabinet Jepang mempublikasikan data GDP kuartal III yang naik 22.9 persen secara tahunan (Year-over-Year). Angka ini rebound dari kontraksi tajam -29.2 persen pada kuartal kedua, sekaligus mengungguli ekspektasi ekonom yang memprediksi perekonomian negeri Sakura akan naik 21.5 persen.

Kenaikan tajam data GDP Jepang juga terlihat secara kuartalan (Quarter-over-Quarter) yang tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 5.3 persen sepanjang periode Juli-September lalu. Angka ini berhasil melampaui forecast ekonom sebelumnya yang memperkirakan ekonomi akan naik 5.0 persen setelah merosot 8.3 persen pada kuartal kedua lalu. Secara garis besar, perekonomian Jepang pulih secara cepat pada kuartal ketiga tahun ini karena pembatasan sosial tidak kembali diberlakukan seperti halnya di awal kuartal kedua.

Pengeluaran Rumah Tangga Kian Pulih

Data GDP Jepang kuartal III yang positif sebenarnya tidak terlepas dari faktor pendukung seperti pulihnya pengeluaran rumah tangga (Household Spending). Kantor Kabinet pagi ini dalam rilis terpisah melaporkan data Household Spending naik 1.9 persen secara tahunan di bulan Oktober. Ini menjadi kenaikan pertama dalam setahun terakhir yang mencerminkan optimisme konsumen kian kokoh.

Kenaikan pengeluaran rumah tangga Jepang bulan Oktober sebesar 1.9 persen itu sebenarnya berada dibawah ekspektasi pasar yang memprediksi kenaikan hingga 2.5 persen. Meski demikian, setidaknya angka Household Spending bulan Oktober jauh lebih baik ketimbang penurunan 10.2 persen pada bulan September. Sementara itu dalam basis bulanan, Household Spending naik 2.1 persen di bulan Oktober, lebih baik dari forecast kenaikan 1.0 persen, tapi lebih rendah dari kenaikan periode sebelumnya sebesar 3.8 persen. Di tengah tanda tanda pemulihan perekonomian Jepang, tetap terselip kekhawatiran menyusul lonjakan kasus COVID-19 baru baru ini yang terjadi di banyak negara dunia. Kondisi ini tentu saja mengaburkan prospek ekonomi Jepang yang sebagian besar sangat bergantung pada sektor ekspor. “Aktivitas ekonomi kembali setelah penerapan lockdown pada kuartal kedua dan berdampak langsung terhadap kenaikan pengeluaran rumah tangga… Tapi dampak pandemi tetap ada, jadi kita harus mencermati perkembangan-nya”, kata seorang pejabat pemerintah dalam sebuah statement. Analis melihat bayang bayang kebangkitan pandemi saat vaksin belum tersedia diperkirakan akan tantangan berat bagi pembuat kebijakan Jepang. Kabar terbaru menyebut bahwa PM Suga telah menyiapkan stimulus baru dengan total sebesar 73.6 triliun Yen akan dikucurkan untuk membantu pemulihan ekonomi di tahun 2021 mendatang.