You are currently viewing Klaim Pengangguran AS Memburuk, Greenback Melemah

Klaim Pengangguran AS Memburuk, Greenback Melemah

  • Post author:
  • Post category:News

Dolar AS melemah tadi malam karena terbebani oleh rilis mengecewakan data Jobless Claims yang mempertegas rencana The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga rendah lebih lama bahkan saat inflasi sudah berada diatas target 2 persen.

Dolar AS melemah terhadap mata uang mayor pada perdagangan hari Kamis malam hingga berlanjut pada sesi Asia pagi ini karena ditekan oleh rilis data klaim pengangguran yang lebih buruk dari ekspektasi. Pada saat berita ini diturunkan, indeks DXY yang mengukur kekuatan greenback melawan enam mayor currencies berada di kisaran 90.408 atau melemah 0.01 persen dari level harga open harian.

Rilis data Jobless Claims AS tadi malam menunjukkan bahwa jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran sebanyak 793k pada perhitungan hingga tanggal 06 Februari lalu. Angka ini tentu saja berada diatas ekspektasi ekonom  sebesar 757k setelah pada periode sebelumnya klaim pengangguran tercatat sebanyak 812k. Secara rata rata, klaim pengangguran AS selama 4 pekan terakhir turun dari 856k menjadi 823k hingga minggu lalu.

“Laju perbaikan pasar tenaga kerja AS saat ini seolah membenarkan bias dovish The Fed yang membuat dolar AS rentan terhadap potensi pelemahan untuk jangka pendek”, kata Joe Manimbo, analis market Western Union Business Solutions di Washington dalam sebuah catatan.

Dolar AS Dibayangi Oleh Kebijakan Akomodatif The Fed

Pelemahan dolar AS yang terjadi tadi malam setelah rilis data klaim pengangguran sebenarnya terjadi lantaran investor melihat kondisi pasar tenaga kerja AS saat ini semakin memperkuat pandangan perlunya kebijakan akomodatif dari The Fed. Pada hari Rabu (10/Februari), Powell menegaskan bahwa kerangka kebijakan baru bank sentral dapat mengakomodasi inflasi tahunan di atas 2 persen. Itu artinya, The Fed mungkin tetap akan mempertahankan kebijakan longgar bahkan setelah tingkat inflasi berada diatas 2 persen.

Di tengah pelemahan dolar AS dalam beberapa hari terakhir, kami memperkirakan dolar AS berpotensi menguat terhadap mata uang Euro karena prospek pemulihan ekonomi Eropa sangat suram saat ini”, kata Ron Simpson, direktur pelaksana dan analisis mata uang global di Action Economics di Florida.

Beberapa analis mencatat bahwa dolar baru-baru ini menjadi lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga. Selama setahun terakhir, selera risiko menentukan arah dolar yang diminati sebagai safe haven saat ada tekanan politik dan keuangan dan jatuh pada saat ekspansi global. “Ada alasan bagus untuk pemikiran ini (dolar lebih sensitif), karena pernyataan Fed saat ini setidaknya lebih positif daripada beberapa bulan lalu. Selain itu, ini bisa menjadi tanda peringatan dini bahwa tren turun dolar AS mungkin akan mulai berakhir, ”kata HSBC.