You are currently viewing Belanja Modal Terhambat, GDP Jepang Q4/2020 Melambat

Belanja Modal Terhambat, GDP Jepang Q4/2020 Melambat

  • Post author:
  • Post category:News

Sikap hati hati pengusaha dalam dalam pengeluaran untuk belanja modal ditengah dampak pandemi yang belum selesai telah menekan pertumbuhan GDP Jepang pada kuartal IV tahun 2020, perekonomian Jepang berpotensi mendapat hambatan di awal 2021.

Pada hari Selasa (09/Maret),Biro Statistik Jepang mempublikasikan data GDP kuartal IV 2020 yang naik tumbuh 11.7 persen secara tahunan (Annualized). Angka ini berada dibawah ekspektasi pertumbuhan 12.8 persen dan merosot cukup tajam dibandingkan data periode sebelumnya yang saat itu naik hingga 22.9 persen.

Perlambatan serupa juga terlihat dalam basis kuartalan (Quarter-over-Quarter) yang hanya tumbuh sebesar 2.8 persen sepanjang periode Oktober-Desember tahun lalu. Angka ini jelas berada dibawah pencapaian pada kuartal sebelumnya yang tumbuh hingga 5.3 persen, sekaligus lebih rendah daripada forecast ekonom yang memperkirakan data GDP akan tumbuh 3.0 persen.

Perekonomian Jepang yang tumbuh lebih lambat pada kuartal terakhir tahun 2020 sebenarnya lebih disebabkan oleh sikap hati hati perusahaan dalam pengeluaran mereka terutama belanja modal karena dampak pandemi Corona masih membebani prospek pemulihan ekonomi.

Pertumbuhan GDP yang lebih lambat ini terutama disebabkan oleh belanja modal dan belanja publik yang lebih lemah dengan kenaikan yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya pada kuartal keempat. Belanja modal tumbuh 4.3 persen dari kuartal sebelumnya yang saat itu naik 4.5 persen, sedangkan konsumsi swasta tercatat naik 2.2 persen atau sesuai dengan ekspektasi sebelumnya.

Perekonomian Jepang masih akan mendapat tantangan baru di tahun ini menyusul data terpisah yang menunjukkan pengeluaran rumah tangga bulan Januari turun sebanyak 6.1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan kondisi ekonomi yang sejatinya masih cukup jauh berada dibawah level pra-COVID.

Beberapa analis khawatir bahwa kondisi suram pada sektor investasi perusahaan dan pengeluaran rumah tangga Jepang dapat bertahan lebih lama dari perkiraan. Hal ini bisa menjadi pertanda buruk bagi sektor permintaan sehingga berpotensi mengancam negara ekonomi terbesar ketiga di dunia tanpa pendorong pertumbuhan domestik.

Mengacu pada prospek perekonomian yang berpotensi melemah, Bank Sentral Jepang (BoJ) pada pertemuan minggu depan diperkirakan akan kembali meninjau kebijakan moneter untuk membuatnya menjadi lebih efektif dan berkelanjutan ditengah dampak pandemi yang belum hilang sepenuhnya.

Bullish USD/JPY Tak Terbendung

Rilis data GDP Jepang kuartal IV/2020 yang mengecewakan pagi ini semakin membebani pergerakan mata uang Yen melawan dolar AS. Reli greenback kian tak terbendung, terlihat pada pair USD/JPY yang saat ini berada di kisaran 109.11 atau menguat 0.26 persen dari harga open harian. Penguatan tajam dolar AS terhadap Yen dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh lonjakan Yields Obligasi AS yang menjadi daya tarik bagi investor untuk melepas Yen dan lebih memilih memegang dolar.