Akibat Komentar Bullard, USD Makin Terjun

Akibat Komentar Bullard, USD Makin Terjun

Pelemahan Dolar AS pada perdagangan awal pekan masih berlanjut setelah pejabat The Fed mengatakan bahwa pengetatan kebijakan tidak mungkin dilakukan dalam kondisi pandemi.

Dolar AS melemah di dekat level terendah tiga bulan pada sesi Asia hari Selasa (25/Mei) karena meredanya prospek tapering. Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan USD terhadap enam mata uang utama saat ini berada di kisaran 89.75, melemah 0.1 persen dari harga Open harian.

Dalam berbagai pair mayor, Dolar AS juga menunjukkan penurunan. EUR/USD menguat 0.09 persen dan berada di kisaran 1.2227, sementara GBP/USD naik ke level 1.4170. Trio mata uang komoditas (AUD, CAD, dan NZD) pun ikut menguat versus Dolar AS seiring dengan membaiknya sentimen risk-on global.

Para pelaku pasar yang selama beberapa hari terakhir diliputi ketidakpastian mengenai prospek kebijakan, tampaknya mulai menemukan kepastian setelah pejabat The Fed tadi malam berkomentar soal lonjakan inflasi AS baru-baru ini.

“Saya pikir akan ada saatnya di mana kita dapat berbicara lebih banyak tentang mengubah parameter kebijakan moneter… Dan saya rasa kita tidak akan melakukannya ketika masih dalam kondisi pandemi,” kata James Bullard, Presiden Fed St. Louis.

Rodrigo Catril, analis mata uang National Australia Bank, merespon pernyataan Bullard dengan berkata, “Pasar tampaknya mulai mengikuti narasi Fed bahwa ledakan inflasi hanya mungkin terjadi sementara… (sehingga) seharusnya tidak memicu penghapusan kebijakan stimulus dari bank sentral dalam waktu dekat.”

Investor Nantikan Data Inflasi PCE

Meskipun sudah ada pernyataan dari pejabat The Fed yang meredupkan prospek tapering, data inflasi PCE yang akan dirilis pada Jumat mendatang masih diantisipasi oleh para investor. Pasalnya, laporan PCE merupakan acuan yang lebih diutamakan oleh The Fed dalam mempertimbangkan kebijakan moneter.

“Seluruh dunia saat ini berada dalam fase wait and see… Beberapa bulan ke depan menjadi sangat penting bagi pasar FX karena investor mencermati seperti apa data akan berjalan (dan apakah data tersebut) akan memancing reaksi The Fed untuk mulai membicarakan rencana tapering,” kata Stuart Oakley, kepala perdagangan FX di Nomura Securities.