Sempat Bullish, USD Kembali Merosot Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan

Sempat Bullish, USD Kembali Merosot Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan

Dolar bergerak cenderung mendatar yang mencerminkan kegelisahan investor jelang rilis NFP pada hari Jumat yang bisa menjadi petunjuk mengenai apakah The Fed mulai akan mengeser outlook moneter menjadi lebih hawksih atau bertahan pada sikap dovish.

Dolar AS terpantau bergerak naik turun pada perdagangan Kamis (03/Juni) yang mencerminkan sikap wait and see investor dalam mengantisipasi laporan data ketenagakerjaan AS akhir pekan nanti. Pada saat berita ini diturunkan, indeks DXY yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang mayor berada di kisaran 89.94 atau menguat 0.05 persen secara harian. Dolar juga bergerak cenderung mendatar sepanjang sesi New York tadi malam ditengah minim-nya rilis data ekonomi negeri Paman Sam.

Secara garis besar, dolar AS bergerak dalam rentang terbatas dalam beberapa waktu terakhir yang mencerminkan kegelisahan investor menjelang laporan data ketenagakerjaan AS minggu ini. Pasalnya data klaim pengangguran nanti malam dan NFP hari Jumat besok akan menjadi petunjuk kunci bagi The Fed untuk mengambil kebijakan moneter pada pertemuan selanjutnya terkait suku bunga.

Investor saat ini bertanya tanya, apakah The Fed akan tetap bergeming pada keputusannya untuk mempertahankan suku bunga di rekor terendah lebih lama atau akan mengubah rencana dengan mempercepat jadwal pengetatan moneter jika semakin banyak bukti tambahan bahwa perekonomian AS rebound dengan cepat dari dampak pandemi.

Data klaim pengangguran AS yang akan dirilis nanti malam bisa menjadi petunjuk awal tentang kondisi perekonomian, termasuk memperkirakan seperti apa rilis data Payroll AS jumat besok. Di samping itu, pelaku pasar juga akan mencermati setiap pernyataan terbaru dari petinggi The Fed sebelum pertemuan berikutnya pada bulan Juli mendatang.

“Dolar AS masih terjebak dalam kisaran sempit… Bagaimanapun, dolar masih akan disokong oleh perbedaan imbal hasil obligasi terutama terhadap negara maju dan tampaknya pernyataan terbaru petinggi The Fed, Lael Brainard menunjukkan Bank Sentral mulai mengeser pandangan secara halus menjadi tidak terlalu dovish”, kata Terence Wu dan Frances Cheung, ahli strategi di OCBC Bank Singapura dalam sebuah catatan.

Pendapat lain diungkapkan oleh Carol Kong, analis Commonwealth Bank of Australia yang mengatakan bahwa skenario buruk dapat terjadi apabila rilis data ketenagakerjaan AS minggu ini meleset dari espektasi. Hal ini berpotensi akan menekan dolar AS bergerak lebih rendah. “(Kami) mempertahankan pandangan bahwa The Fed seharusnya secara bertahap mulai meninggalkan sikap sangat dovish yang dibangun dari sini, kecuali jika data NFP yang meleset minggu ini.”