Ekspor China Melebihi Ekspektasi Meski Kondisi Ekonomi Melambat

Ekspor China Melebihi Ekspektasi Meski Kondisi Ekonomi Melambat

  • Post author:
  • Post category:News

Data perdagangan China melonjak hingga mematahkan ekspektasi perlambatan oleh ekonom. Namun,
sejatinya ekonomi China bersiap menghadapi perlambatan yang ditandai dengan memburuknya beberapa
data fundamental dalam beberapa waktu terakhir.

Pada hari Selasa (7 September 2021), Biro Statistik Nasional China mempublikasikan data ekspor
yang melonjak 25.6 persen secara tahunan (Year-over-Year) di bulan Agustus. Angka ini mematahkan
ekspektasi ekonom yang memprediksi pertumbuhan akan melambat menjadi 17.1 persen setelah kenaikan 19.3 persen
pada bulan ini.

Data ekspor China ini mencerminkan masih kokohnya kondisi fundamental negara tersebut saat perekonomian
masih dibayangi oleh kekhawatiran terhadap virus Corona Delta. Permintaan global yang kuat terus menopang
pertumbuhan ekspor China dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pengiriman ke Korea Selatan yang tercatat
mengalami kenaikan signifikan bulan lalu.

Di samping itu, masalah kemacetan di pelabuhan tampaknya telah teratasi sehingga memperlancar pengiriman barang
menuju luar negeri. Sebelumnya, pelabuhan terbesar kedua dunia yang terletak di pesisir timur
mengalami kemacetan parah akibat dari ditutupnya operasional selama dua minggu, imbas dari virus Corona Delta.
Pelabuhan yang kembali beroperasi inilah mendasari lonjakan ekspor China bulan Agustus yang secara tidak terduga
mematahkan ekpektasi ekonom.

Pada rilis terpisah, impor China juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Tidak tanggung-tanggung, impor
negeri Tirai Bambu meningkat dari 28.1 persen menjadi 33.1 persen secara tahunan pada bulan Agustus. Angka ini
lebih baik ketimbang forecast ekonom yang memperkirakan pertumbuhan akan melambat menjadi 26.8 persen.

Data ekspor-impor China yang cukup impresif ini berdampak langsung terhadap data neraca perdagangan (Trade Balance)
yang mengalami surplus 58.34 miliar dolar di bulan Agustus, naik dari surplus 56.59 miliar dolar pada periode sebelumnya.

Terlepas dari positifnya data perdagangan China pagi ini, sebagian besar analis memperkirakan bahwa Bank Sentral (PBoC)
kemungkinan akan melakukan intervensi terhadap perbankan dalam upaya menggenjot pertumbuhan ekonomi setelah pada bulan
Juli lalu menggelontorkan sekitar 1 triliun Yuan untuk likuiditas jangka panjang.

Prospek intervensi yang bakal dilakukan oleh PBoC ini sangat beralasan mengingat rilis data ekonomi
China yang masuk dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan perlambatan, mulai dari sektor bisnis
yang mengalami tekanan, aktivitas manufaktur yang berkembang lebih lambat hingga sektor jasa
yang merosot kedalam zona kontraksi.